Menimbang Rencana Masa Depan - Bekerja sambil Kuliah

Setiap orang berkesempatan untuk mengembangkan dirinya sebaik mungkin, dan banyak cara yang bisa ditempuh untuk proses pengembangan diri. Langkah terbaik idealnya dipertimbangkan menurut rencana dan kemampuan diri. Di usia dewasa muda, dilema mengejar pengalaman bekerja dan melanjutkan kuliah sering membuat galau. Mulai dari keuntungan jangka panjang, sisi mana yang lebih efektif, hingga kekurangan yang dimiliki kedua sisi. Artikel ini akan mengupas segala hal terkait, jadi pastikan kamu membaca sampai akhir, ya!

Menimbang Rencana Masa Depan - Bekerja sambil Kuliah

Kebutuhan akan materi dan tuntutan lingkungan sering menjadi alasan bagi masyarakat cenderung memilih jalan untuk langsung bekerja. Sebagian orang memilih langsung bekerja untuk “terjun langsung” dan belajar keahlian aplikatif, sementara di sisi lain ada kelompok orang yang memilih untuk memperluas pengetahuan dan jaringannya dengan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. 

Merujuk pada artikel Jacky Mussry dalam majalah Marketeers, justru pendidikan merupakan unsur dasar pembentukan human capital yang akan menentukan daya saing suatu negara. Artinya, belum tentu kualitas individu seseorang menjadi maksimal bila ia tidak menjalani pendidikan setinggi mungkin. 

Pendidikan Formal: Masih Relevan?

Mari mulai dari skenario pertama: Menempuh pendidikan tinggi terlebih dahulu sebelum bekerja, tetapi kita harus mengenal alternatif pendidikan yang ada, antara pendidikan formal melalui kelas di universitas atau beralih ke Massive Open Online Courses (MOOC). MOOC sendiri berkembang pesat sebagai dampak pandemi, untuk mengisi waktu luang masyarakat dengan kegiatan produktif yang memperluas pengetahuan. Dari sini dapat disimpulkan, bila kita ingin menguasai suatu spesialisasi dengan target tertentu, maka pendidikan formal di bangku kuliah merupakan opsi terbaik karena MOOC dirancang sebagai program pendidikan jangka pendek dengan target peserta yang tinggi akan semangat belajar secara pribadi.  

Melansir dari artikel ilmiah yang ditulis oleh Ahmed Mosen, waktu yang harus disisihkan untuk mengikuti pendidikan formal relatif lebih lama dibandingkan MOOC, justru hal ini menjadi penyebab orang yang menempuh pendidikan formal lebih ‘dihargai’ oleh sebagian besar masyarakat. Bayangkan ketika seseorang menempuh pendidikan pascasarjana bisnis, misalnya. Pada semester pertama ia akan belajar mengenai dasar-dasar bisnis. Dilanjutkan pada semester kedua, mempelajari teori lanjutan dari dasar bisnis yang telah dipahami, bersambung mempelajari kasus bisnis dan cara penyelesaiannya di semester berikutnya, hingga persiapan dan penelitian untuk tesis. 

Ragam dinamika yang ada dianggap membentuk mahasiswa untuk memahami ilmu bisnis lanjutan, berikut tantangan dan realita yang mereka temui dalam tugas harian atau tesis. Bandingkan dengan seseorang yang mengambil konsentrasi bisnis dalam MOOC. Betul, persamaannya adalah sama-sama belajar ilmu bisnis dari awal, mempelajari kasus bisnis, hingga program MOOC berakhir, masalahnya dinamika yang dirasakan MOOC tidak sama seperti pada kelas formal.

Pada akhirnya––setidaknya hingga hari ini––gelar yang didapat melalui pendidikan formal unggul atas keuntungan yang tidak diragukan. Dorrie Clark, dalam Harvard Business Review, mengakui bahwa MOOC memang menyediakan sertifikat sebagai tanda bahwa kita telah menyelesaikan suatu course, tetapi ijazah dan gelar formal masih lebih kuat untuk memvalidasi kemampuan kita dalam suatu bidang.

Contoh beberapa MOOC yang paling digunakan masyarakat

Memupuk Pengalaman Kerja: Akankah Lebih Baik?

Pendapat bahwa gelar pasca-sarjana akan mempermudah kenaikan jenjang karir rupanya tidak selalu benar. Jacqueline Smith, dalam Forbes, berpendapat bahwa kemampuan individu yang justru akan dinilai dalam dunia kerja. Misalnya, seseorang lulusan SMA sudah memiliki kemampuan yang baik di bidang teknologi, maka tidak menutup kemungkinan bahwa ia akan diterima bekerja sebagai web developer di sebuah korporasi, sedangkan seorang dengan gelar pasca-sarjana yang tidak memiliki kemampuan interpersonal yang baik, akan membuat perusahaan berpikir dua kali untuk menerimanya. Artikel lain dari Adunola Adeshola, menyatakan bahwa kebanyakan orang kembali belajar di tingkat pascasarjana hanya untuk menunda ketakutannya terjun ke dunia kerja.  Nyatanya, dunia kerja merupakan muara––bagi sebagian besar orang––dari segala kegiatan yang dilakukan saat ini sehingga lebih baik bekerja sedari dini untuk meningkatkan kemampuan diri.

Bekerja tidak menutup kesempatan untuk memperdalam pengetahuan kita dengan pendidikan formal. Melalui pengalaman kerja yang sudah ada, justru kita dapat memutuskan dengan bijak untuk mengambil konsentrasi yang jelas sesuai minat dan kemampuan sesungguhnya. Keuntungan ini menjadi efisien bagi perkembangan diri kita, pasalnya kita memperdalam keilmuan pada bidang yang kita geluti untuk berkontribusi lebih maksimal pada bidang tersebut setelah selesai belajar. Manfaat tidak hanya akan dirasakan kita sebagai individu yang menjalani proses pembelajaran, tetapi dirasakan oleh perusahaan tempat kita bekerja karena menjadi kaya akan human capital yang mumpuni. Misalnya, seseorang mengambil pendidikan pascasarjana Business Innovation setelah dua tahun bekerja di bidang digital marketing. Ketika ia sudah mendapat gelar pascasarjana, maka ia dapat menerapkan pelajaran dari kampus di tempat kerjanya. 

Pertimbangan Dua Pilihan 

Kedua skenario memiliki kelebihan maupun kekurangannya masing-masing, tetapi penilaian menjadi lebih bijak ketika didasarkan pada kemampuan diri masing-masing. Seseorang yang berorientasi pada bidang keilmuan dan penelitian cenderung lebih berorientasi pada pendidikan lanjutan, berbanding terbalik dengan pribadi yang lebih cocok bekerja dalam ranah praktis. Perusahaan juga tidak selamanya diisi dengan orang yang mengejar materi di usia muda, apresiasi mereka akan pengalaman menjadi semangat mereka untuk mengembangkan diri. 

Di sisi lain, ada kelompok yang mampu menggabungkan belajar sambil bekerja dengan beberapa alasan. Menjalankan peran ganda tidak selamanya buruk, melainkan semakin memampukan kita untuk mengaplikasikan teori di kelas secara langsung, dengan catatan bahwa kita sudah memetakan secara matang mengenai rencana karir kita di masa depan. Di samping itu, kita berkesempatan untuk menganalisa kejadian yang ada di perusahaan dengan teori yang dipelajari di kelas dan diharapkan kita mampu menawarkan solusi efektif ke perusahaan. Cukup menghemat waktu untuk pengembangan diri, bukan?

Masalahnya, kita perlu mengingat beberapa tantangan yang mungkin muncul ketika kita berusaha menyeimbangkan keduanya. Kontrol diri untuk membagi waktu dengan bijak menjadi ujian tersendiri, belum lagi ketika ternyata ada beberapa acara dari salah satu kegiatan yang cukup menyita waktu, berikut waktu yang harus disisihkan untuk recharge energi kita. Dilansir dari Edology, langkah terbaik untuk menjalankan peran ganda adalah dengan bersikap jujur dan terbuka kepada kedua pihak, khususnya kampus. Komunikasi menjadi kunci utama keterbukaan untuk berdiskusi dengan pihak kampus bahwa saat ini kita sedang menjalani perkuliahan sambil bekerja atau sebaliknya. Keterbukaan ini tidak hanya akan memunculkan pemahaman antar satu sama lain, tetapi bisa jadi membuka kesempatan untuk saling berkolaborasi.

Jadi, Pilih yang Mana?

Terbukanya beberapa opsi, bahkan untuk menggabungkan pendidikan tinggi dan bekerja sekaligus, menjadi peluang bagi kita mengembangkan diri. Bila pada akhirnya kita memilih jalan untuk menempuh pendidikan tinggi terlebih dahulu, pastikan kita sudah mengetahui apa yang akan menjadi tujuan dan manfaat mengenyam ilmu tersebut, atau memastikan pengetahuan kita tetap berkembang bila kita memilih bekerja dulu. Kolaborasi antara belajar dan bekerja bisa menjadi alternatif yang tepat bila kita ingin menghemat waktu untuk mengembangkan potensi diri sekaligus memperluas network dan kesempatan menjadi seorang spesialis. Mengambil salah satu pilihan yang sesuai adalah pilihan yang bijak, namun mengingat maraknya persaingan dunia dewasa ini, maka tidak ada salahnya mengambil opsi yang menggabungkan dua pilihan, ‘kan?

Semoga kita selalu semangat untuk mengembangkan diri dan berani mengambil keputusan hebat!

Jika Anda masih bingung menimbang rencana masa depan untuk bekerja sambil kuliah, Anda bisa mengikuti Strategic Marketing Forum yang akan diadakan oleh MarkPlus Institute dan SBM ITB sepanjang tahun. 

Strategic Marketing Forum akan membahas isu-isu strategic marketing dan memberikan info seputar kuliah di Strategic Marketing Executive MBA, program yang diasuh SBM ITB dan MarkPlus Institute.